Showing posts with label kebun biomasa. Show all posts
Showing posts with label kebun biomasa. Show all posts

Tuesday, February 8, 2022

Dikotomi Kebun Energi dan Kebun Legum

Ada dikotomi antara teman-teman di peternakan dan kehutanan saat ini tentang tanaman-tanaman legum tersebut. Dari peternakan melihatnya pada daun sebagai sumber protein nabati pakan dan dari kehutanan melihat pada kayu sebagai sumber kayu yang mudah dibudidayakan dengan produktivitas tinggi. Di sektor kehutanan kayu tersebut biasanya sebagai sumber energi terbarukan seperti wood chip, wood pellet, wood briquette atau briket arang. Kehutanan menanam ribuan hektar legum tersebut seperti gliricidia/gamal dengan orientasi kayu sedangkan daun dianggap produk samping atau limbah dari sisi perkebunan mereka. Dengan memanfaatkan kayu dan daun tersebut artinya keluar dari dikotomi tersebut, membuat paradigma baru dan bisa mengatasi masalah pangan dan energi atau mengoptimalkan kebun legum atau kebun energi (whole tree utilization) ribuan hektar tersebut.


Selain berfungsi sebagai kebun legum untuk pakan ternak khususnya ruminansia (domba, kambing, sapi, kerbau), maupun bahan bakar biomasa seperti di atas, kebun yang sama juga bisa sebagai bahan baku papan sintetis (synthetic fiber board), untuk lebih detail silahkan baca disini. Sementara seiring era bioekonomi yang semakin dekat, maka kebutuhan bioenergy khususnya wood pellet semakin meningkat, kebutuhan pakan ternak khususnya ruminansia yang merupakan bagian mata rantai kebutuhan pangan manusia juga semakin meningkat dan juga memang pertumbuhan penduduk bumi juga semakin meningkat, dan kebutuhan biomaterial seperti papan sintetis juga meningkat, maka pembuatan kebun energi atau kebun legum atau kebun biomasa tersebut sangat penting, strategis dan multimanfaat. Berdasarkan kondisi tersebut bukan tidak mungkin jika dalam waktu tidak lama lagi kebun tersebut akan menjadi trend nasional bahkan global. 

Sunday, January 2, 2022

Produksi Papan Tiruan*, Peternakan Ruminansia dan Industri Pakan Ternak dari Kebun Biomasa

Papan tiruan seperti papan laminasi, papan partikel, papan serat dan papan semen bisa dibuat dari kayu kebun biomasa. Selain kayu tersebut berukuran kecil, juga kualitasnya rendah yang saat ini belum memiliki nilai pemanfaatan yang memadai. Hutan atau kebun tanaman biomasa bisa digunakan untuk bahan baku papn tiruan tersebut. Dengan tanaman rotasi cepat dengan trubusan (short rotation coppice) dan jenis tanaman tumbuh cepat (fast growing species) seperti kaliandra dan gamal / gliricidia sangat potensial sebagai bahan baku papan tiruan tersebut. Produksi papan tiruan ini juga menggunakan jenis bahan baku yang sama dengan wood pellet yakni limbah-limbah kayu atau kayu-kayu seharga kayu limbah. Kayu produksi dari kebun biomasa ini masuk kelompok yang kedua yakni kayu-kayu seharga kayu limbah. Bahkan dilain sisi industri pengolahan kayu besar yang menghasilkan banyak limbah kayu tidak sedikit yang mengolah limbahnya tersebut untuk produksi wood pellet dan papan tiruan tersebut. 

Tetapi akan lebih baik apabila produksi sumber bahan baku untuk papan tiruan tersebut berasal dari hutan atau kebun tanaman biomasa sehingga tidak hanya kayu bahan baku untuk papan tiruan tersebut tetapi juga daun dan bunganya juga dimanfaatkan. Daun tersebut selanjutnya bisa sebagai pakan ternak ruminasia dan bahkan produksi pakan ternak tersebut sebagai industri tersendiri. Sedangkan bunga dari kebun tersebut bisa digunakan untuk peternakan lebah madu. Pada usaha peternakan khususnya ruminansia, pakan merupakan komponen biaya tertinggi  yang diperkirakan mencapai 80% lebih. Hutan atau kebun tanaman biomasa tersebut yang luasnya mencapai ribuan hektar dan mampu sebagai sumber pakan utama peternakan ruminansia besar. Bahkan apabila terjadi surplus yang besar maka industri pakan ternak juga perlu dibuat berdiri sendiri.

Pakan ternak dalam bentuk hay dan pellet cocok untuk penggunaan jarak jauh karena biaya transportasi akan murah. Pada dasarnya juga seluruh bagian dari pohon tersebut bisa dimanfaatkan sehingga memberikan keuntungan yang optimal. Untuk menjaga keberlanjutan hutan atau kebun tanaman biomasa tersebut maka juga perlu pengelolaan yang baik sehingga bahkan perfoma produktivitas hutan atau kebun biomasa tersebut bisa terjaga. Seiring dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat maka kebutuhan untuk perumahan maupun sarana kehidupan lain juga meningkat demikian juga pangan. Hutan atau kebun tanaman biomasa tersebut bisa membantu mengatasi kedua masalah tersebut. 

*Papan tiruan yang dimaksud adalah papan laminasi, papan partikel, papan serat dan papan semen. Sedangkan kayu lapis (plywood) tidak termasuk di dalamnya, walaupun plywood termasuk pula jenis papan tiruan. Produksi plywood dari lembaran veener yang berasal dari kayu diameter besar, tidak seperti kebun biomasa ini.   

Tuesday, November 23, 2021

Urgensi Produksi  Hay 

Kalau di negara empat musim pada musim dingin tanaman pertumbuhannya sangat lambat bahkan berhenti tumbuh sehingga hay digunakan sebagai tambahannya, sedangkan di Indonesia pada musim kemarau rerumputan juga hijauan terbatas sehingga untuk mempertahankan performa peternakan seharusnya pakan tambahan seperti hay ini digunakan. Dengan dibuat hay, pakan ternak menjadi tahan lama sehingga bisa untuk sumber pakan ketika pasokan berkurang. Dengan kondisi kering dan dipadatkan maka hay menjadi mudah disimpan dan penggunaannya. Pada peternakan yang berorientasi pada perkembangbiakkan (breeding) kualitas pakan biasanya tidak sebagus pada peternakan yang berorientasi pada penggemukan (fattening). Durasi breeding yang lebih lama daripada fattening adalah salah satu pertimbangan tersebut, karena pakan menjadi komponen biaya tertinggi pada usaha peternakan.

Karena berbagai faktor seperti karena kondisi geografi dan tenaga kerja, sejumlah negara bahkan harus mengimport pakan ternak khususnya hay tersebut. Amerika Serikat misalnya mengeksport tidak kurang 700.000 ton hay setiap tahunnya ke Jepang, Taiwan dan Korea. Daun leguminoceae seperti indigofera, kaliandra dan gliricidia / gamal adalah sumber pakan ternak ruminansia sangat potensial untuk produksi hay tersebut. Selain bisa ditanam khusus untuk produksi hay tersebut leguminoceae tersebut juga bisa sebagai tanaman kebun energi atau kebun biomasa. Integrasi kebun energi atau kebun biomasa tersebut dengan usaha peternakan khususnya produksi pakan ternak dalam bentuk produk hay adalah kombinasi yang sangat menarik.  

Selain untuk pasar export, pasar dalam negeri atau lokal juga tidak kalah menarik. Daerah-daerah dengan tanah yang luas bisa sebagai sentra-sentra produksi hay tersebut selanjutnya didistribusikan ke sejumlah sentra peternakan ruminansia. Hay dengan kondisi kering dan dipadatkan (densified) sehingga mudah didistribusikan bahkan dalam jarak jauh sekalipun. Hal ini berbeda dengan silase yang kondisinya basah sehingga tidak bisa dipadatkan seperti hay tersebut. Dengan terpenuhinya pakan maka performa usaha peternakan ruminansia bisa terjaga. Pada kebun energi atau kebun biomasa, kayu bisa diolah menjadi produk energi seperti wood chip, wood pellet, wood briquette maupun sawdust charcoal briquette, atau pun produk non-energi seperti particle board. Itu berarti seluruh bagian pohon tersebut bisa dimanfaatkan.

Wednesday, January 13, 2021

Produksi Complete Feed Dengan Integrasi Kebun Energi Dan Pemberdayaan Masyarakat

Pakan dan pasar adalah dua hal terpenting dalam dunia peternakan. Peternak yang bisa mendapatkan pakan yang aman, bernutrisi, terjangkau, cukup dan berkelanjutan akan menghasilkan kualitas dan kuantitas terbaik. Kategori aman salah satunya bukan berasal dari transgenik atau GMO untuk lebih detail bisa dibaca disini. Pakan-pakan tersebut sangat mungkin dibuat sendiri dengan memanfaatkan potensi sekitar. Keahlian untuk menyediakan pakan tersebut tentu sangat penting untuk peternakan profesional. Demikian juga akses pasar yang luas memungkinkan usaha peternakan tersebut semakin menguntungkan. Era intenet saat ini juga sangat menunjang untuk mendapatkan akses pasar yang luas tersebut. Media sosial seperti group-group whatsapp, telegram, twitter, youtube dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut.

Untuk mendapatkan nutrisi lengkap sehingga menjadi pakan lengkap (complete feed), tentu tidak bisa didapat dari satu sumber saja. Malnutrisi yang berakibat menurunnya kualitas dan produksi ternak pasti akan terjadi, jika nutrisi pakan tidak memadai. Pembuatan kebun energi atau kebun biomasa dengan tanaman leguminoceae seperti gamal/gliricidia dan kaliandra merah sangat mungkin diintegrasikan dengan usaha peternakan tersebut. Peternakan domba, kambing dan sapi adalah pilihan terbaik usaha peternakan tersebut. Hal tersebut juga diharapkan nantinya kemajuan bidang energi terbarukan dari kebun energi atau biomaterial akan sejalan dengan usaha peternakan tersebut. Sementara daun gamal atau kaliandra memiliki kandungan utama berupa protein yang bisa mencapai 25%, maka sumber nutrisi lainnya seperti sumber serat, vitamin dan mineral bisa didapatkan dari lingkungan sekitar kebun tersebut. Masyarakat di sekitar area perkebunan bisa diberdayakan untuk menanam tanaman pelengkap nutrisi tersebut ataupun memanfaatkan berbagai limbah pertanian mereka seperti jerami, rerumputan dan sebagainya.

 Daun gamal atau kaliandra tersebut sebagai sumber pakan penggunaannya diperkirakan maksimal 30% dari pakan lengkap (complete feed) tersebut. Dengan produktivitas daun per hektar sekitar 30 ton/tahun basah atau 18 ton/tahun kering. Berarti untuk setiap 1000 hektar kebun gamal akan menghasilkan 18.000 ton/tahun daun kering. Jika kambing/domba memakan 3 kg/hari (30% dari total konsumsi complete feednya) berarti untuk 1 tahun 1 ekor domba/kambing menghabiskan sekitar 1 ton daun kering tersebut atau dengan volume 18.000 ton/tahun berarti bisa mencukupi 18.000 ekor domba/kambing selama 1 tahun.

Inovasi pakan ternak tersebut juga harus terus dilakukan sehingga konversi pakan ke produk daging, susu atau peranakan tinggi, bahkan formulasi pakan tersebut seharusnya bisa disesuaikan dengan tingkat usia hewan ternak. Riset-riset untuk mendapatkan formulasi atau resep-resep pakan variatif terutama yang adaptif dengan potensi lokal sangat penting dilakukan. Termasuk diantaranya adalah mengidentifikasi dan mengembangkan sumber-sumber pakan sebanyak mungkin. Semakin banyak sumber pakan teridentifikasi dan formulasi pakannya, maka diharapkan usaha peternakan akan berkembang pesat. Studi kasus pada daun gamal dan kaliandra memiliki beberapa zat anti nutrisi maka zat-zat tersebut juga harus bisa dikurangi bahkan dieliminasi sama sekali sehingga nutrisi pakan terserap secara efektif. Zat anti nutrisi pada gamal/gliricidia adalah dicoumerol, HCN (asam sianida) dan nitrat sedangkan kaliandra merah zat anti nutrisinya tanin. 

Produksi Pakan Ternak Dunia Sekitar 1 milyar ton/tahun dan Potensi Pellet Pakan Daun Gliricidia

Produksi pakan ternak dunia saat ini diperkirakan mencapai 1 milyar ton per tahun. Sebagai mata rantai pemenuhan kebutuhan pangan manusia khususnya daging, maka produksi pakan ternak sangat penting dan strategis. Negara-negara besar produsen pakan ternak dunia yakni China dengan porsi mencapai 19,6% disusul sejumlah negara yakni Amerika dengan 17,4%, Brazil 6,8% lalu negara-negara seperti Mexico, Spanyol, India, Russia, Jepang dan Jerman juga merupakan produsen-produsen besar pakan ternak. sisanya oleh negara-negara seluruh dunia. Atau dengan gabungan China, Amerika Serikat, Eropa dan Brazil mengambil porsi lebih dari 60% produksi pakan ternak dunia dengan hampir separuh produksi pakan adalah pakan unggas. Diperkirakan ada lebih dari 8.550 pabrik pakan di China dengan produksi 179 juta ton, 6.012 pabrik pakan di Amerika dengan produksi 173 juta ton, 1.556 pabrik pakan di Brazil dengan produksi 68 juta ton. Dengan perkiraan populasi manusia pada tahun 2050 mencapai 9,6 milyar maka diperkirakan kebutuhan pakan menjadi sangat besar. 

Daging adalah sumber protein penting bagi manusia. Tetapi bagi muslim mengkonsumsi daging tidak hanya tergantung pada kadar protein daging tersebut, tetapi jenis hewan ternak, penyembelihan, dan pengolahannya hingga siap dikonsumsi harus sesuai syariat Islam. Binatang ternak yang diharamkan tidak boleh diternakkan apalagi dikonsumsi karena hukumnya haram bagi muslim. Berdasarkan produksi pakan ternak suatu negara juga bisa diketahui jenis binatang ternak dan daging apa yang mereka konsumsi. Sebagai contoh Belanda dengan sekitar 75 pabrik pakan produksi pakan ternak mencapai 12,2 juta ton per tahun, distribusinya 5 juta ton pakan babi, 3,7 juta ton sapi potong dan sapi perah, 3,1 juta ton unggas dan 0,4 juta ton ternak lainnya. Sedangkan Turki tercatat produksi pakan ternak mencapai 10,5 juta ton dengan komposisi 4,2 juta ton pakan sapi perah dan sapi potong, 4,6 juta ton unggas, dan ternak lainnya 1,5 juta ton. Sedangkan secara global komposisinya sebagai berikut produksi pakan unggas diperingkat pertama dengan porsi 45% disusul urutan kedua pakan babi 11%, ketiga ruminansia 10% dan sisanya lain-lain seperti pakan ikan, binatang peliharaan dan kuda. Indonesia dengan penduduk mayoritas Islam juga sudah  seharusnya memprioritaskan untuk mengembangkan industry pakan ternak  berbasis industri halal sehingga sehingga sejalan dengan syariat Islam. Masalah kehalalan adalah masalah penting dan mendasar bagi muslim untuk urusan pangan. 

 Sumber pakan khususnya ketersediaannya adalah hal vital untuk produksi pakan ternak. Sejumlah negara bahkan harus mengimport berbagai bahan baku untuk pakan ternak tersebut. Bahkan di Eropa dan Amerika sisa makanan juga digunakan untuk sumber bahan baku pakan ternak yang jumlahnya diperkirakan mencapai 60% di Eropa dan 50% di Amerika Serikat. Walaupun produksi pakan ternak dunia mencapai sekitar 1 milyar ton setiap tahun tetapi pada dasarnya produsen pakan besar dunia yang mendominasi produksi tidak banyak. Saat ini diperkirakan ada sekitar 31 ribu pabrik pakan seluruh dunia, dengan distribusi seribu di Afrika, 13 ribu di Asia, 5 ribu di Eropa, 3 ribu di Amerika latin, 6 ribu di Amerika utara dan 288 di Timur Tengah. Charoen Pokphand (CP) perusahaan yang berbasis di Thailand adalah termasuk 10 besar pabrik pakan dunia dengan produksi sekitar 27 juta ton/tahun. Selanjutnya perusahaan berbasis di China New Hope dengan produksi 20 juta ton/tahun, selanjutnya perusahaan Amerika Cargill menempati urutan ketiga dengan 19,2 juta ton, disusul perusahaan Amerika lagi yakni Purina Animal Nutrition dengan 12 juta ton. Perusahaan-perusahaan besar lainnya, BRF (Brazil) 11 juta ton/tahun, Tyson Foods (USA) 10,3 juta ton/tahun, COFCO (China) 8,3 juta ton/tahun, Ja Zen-Noh (Japan) 7,5 juta ton/tahun, Shaungbaotai Group (China) 6,6 juta ton/tahun, dan Wen’s Food group (China) 6,5 juta ton/tahun.

Era bioeconomy yang semakin dekat dan terlihat semakin mendorong penggunaan material terbarukan untuk berbagai aktivitas manusia seperti energi, kemasan, pakaian dan sebagainya. Tuntutan untuk keberlanjutan (sustainibility) menjadi kewajiban untuk berbagai industri pada era ini, termasuk industri pakan ternak. Sejumlah lokasi di Indonesia telah membuat dan mencanangkan kebun energi untuk menyongsong dan sejalan dengan era bioeconomy tersebut. Kebun energi atau kebun biomasa dengan fokus utama pemanfaatan kayu, tetapi belum memanfaatkan potensi daun, sebagai produk samping kebun tersebut. Gliricidia adalah species tanaman yang banyak digunakan karena merupakan tanaman rotasi cepat dan trubusan sehingga selain waktu panen cepat juga tidak perlu menanam kembali (replanting) sampai waktu tertentu. Daun gliricidia memiliki nutrisi tinggi, tidak kalah kandungan proteinnya dengan bungkil sawit, bungkil kacang hijau dan sebagainya, sehingga potensial untuk produksi pakan ternak, khususnya pellet pakan. Sejumlah penelitian menyebutkan penggunaan daun gliricidia sebagai pakan ternak adalah untuk ruminansia atau ikan, tetapi tidak sesuai untuk jenis unggas.

 Ketersediaan pakan aman, berkualitas dan harga terjangkau akan mendorong usaha peternakan yang intensif. Saat ini masih banyak kita temui sejumlah hewan ternak yang diberi pakan berupa sampah kota di lokasi-lokasi pembuangan sampah yang tentu saja hasil daging yang dihasilkan tidak layak untuk konsumsi manusia. Pabrik pakan tersebut juga secara tidak langsung juga mendorong peningkatan kualitas pangan dari daging, dan susu yang dihasilkan dari usaha peternakan. Puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektar kebun gliricidia yang dibuat akan menghasilkan limbah daun berlimpah yang bisa digunakan untuk bahan baku pellet pakan tersebut. Tipikal kapasitas pabrik pakan juga sebanding dengan kapasitas peternakan atau konsumennya dan juga ketersediaan bahan baku, sebagai contoh di Turki sekitar 60% pabrik pakan dengan kapasitas kurang dari 10 ton/jam, sekitar 25% kapasitas 11-20 ton/jam dan sisanya dengan kapasitas lebih dari 20 ton/jam. Pada akhirnya diharapkan dengan majunya peternakan maka semakin mudah dan terjangkau mendapatkan daging halal, meningkat kualitas pangan dan bisa dikurangi bahkan dihilangkan peredaran daging haram di pasaran. 



Integrasi Peternakan Dengan Kebun Biomasa atau Kebun Energi

Lama dan mahalnya biaya sosial untuk produksi kayu-kayu keras seperti kayu jati yang membutuhkan waktu minimal 15 tahun membuat Perhutani menggantinya dengan tanaman rotasi cepat seperti gliricidia. Sedangkan bagi perusahaan swasta alasan utama menanam tanaman rotasi cepat tersebut terutama adalah alasan keuntungan. Komoditas yang memberikan keuntungan cepat, dengan resiko minimal.  Waktu panen kayu yang pendek yang hanya berkisar 2-3 tahun dan bisa trubus (coppice) berulang-ulang tanpa perlu menanam ulang (replanting) adalah keunggulan tanaman tersebut. Penanaman dan perawatan pohon tersebut juga sangat mudah. Harga kayu yang hanya seharga kayu limbah atau kayu bakar juga meringankan biaya sosial yakni pengamanan dari pencurian kayu. Penggunaan kayu-kayu tersebut sebagai sumber biomasa atau bahan baku pada industri pengolahan kayu seperti pembuatan particle board maupun sebagai sumber energi misalnya dengan diolah menjadi wood pellet dan wood briquette. Ratusan ribu hektar telah direncanakan untuk penanaman tersebut dan membutuhkan waktu hingga beberapa tahun ke depan. 

Selain produksi kayu  utama, sebenarnya ada dua produk dari pohon tersebut yang bisa dimanfaatkan yakni bunga dan daun (whole tree utilization). Bunga untuk peternakan lebah madu atau produksi madu dan daun untuk pakan ternak atau produksi daging. Peternakan domba, kambing dan sapi bisa dikembangkan berdekatan dengan kebun tersebut sehingga dekat dengan sumber pakan. Walaupun kandungan protein dalam daun gliricidia berkisar 18-24% atau cukup tinggi untuk pakan ternak pada umumnya, sehingga sangat bagus untuk pakan ternak, karena pakan konsentrat biasanya hanya mengandung protein sekitar 15% saja, tetapi untuk mendapatkan pakan yang berimbang masih dibutuhkan sejumlah nutrisi lainnya. Kebutuhan nutrisi pelengkap lainnya bisa didapatkan dari masyarakat sekitar dengan bekerjasama melalui pemberdayaan masyarakat. Nutrisi yang dibutuhkan untuk pakan ternak sehingga menjadi  pakan lengkap (complete feed) tersebut yakni sumber serat, sumber protein, vitamin dan mineral. Daun gliricidia dengan kadar protein 18-24% sebagai sumber protein, sedangkan rumput atau jerami sebagai sumber serat dan ditambah vitamin dan mineral. 

Penggembalaan tunggal (single grazing)  
 
Penggembalaan campur (mixed grazing)

Penggembalaan 
Untuk menghasilkan hasil ternak yang unggul maka penggembalaan ternak adalah solusinya. Dengan penggembalaan, ternak akan lebih sehat dan biaya pakan bisa semakin murah karena rumput bisa langsung didapat. Dengan luasan kebun biomasa atau kebun energi yang mencapai puluhan hingga ratusan ribu hektar, maka mengalokasikan beberapa puluh atau ratus hektar tentu bukan hal sulit. Area tersebut bisa digunakan untuk padang penggembalaan ternak-ternaknya. Rumput-rumput tertentu bisa ditanam sebagai sumber pakan pada padang penggembalaan tersebut. Domba dan sapi bahkan bisa diternak dan digembala pada satu padang gembalaan yang sama. Teknik penggembalaan rotasi adalah teknik penggembalaan yang bisa diterapkan karena lebih efektif dan efisien, dibanding penggembalaan konversional.

Pabrik Pakan 
Dengan komposisi daun gliricidia yang dihasilkan dari setiap pohon mencapai sekitar 30% dan rata-rata perhektar ditanam 10.000 pohon maka jumlah daun yang dihasilkan dari kebun biomasa atau kebun energi tersebut sangat banyak dan berlebih untuk konsumsi di peternakan. Maka hal tersebut juga berpotensi membuat pabrik pakan ternak. Pakan ternak yang diproduksi selanjutnya bisa menyuplai pakan ke sejumlah peternakan di berbagai daerah sehingga usaha peternakan semakin berkembang dan swasembada daging mudah tercapai. Import daging yang mencapai puluhan bahkan ratusan ribu ton seharusnya bisa dihindari dan dicukupi dari usaha peternakan di dalam negeri.

Masalah utama peternakan yakni pakan dan pasar. Ketika masalah pakan sudah teratasi hal tersebut berarti 50% dari masalah sudah diselesaikan. Sedangkan untuk memulai usaha, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah pasar atau pembeli. Jika produk yang dihasilkan dari usaha yang kita lakukan tidak ada pasar atau pembeli maka usaha tersebut akan merugi dan gulung tikar. Potensi kekurangan daging di dalam negeri bisa menjadi potensi pasar yang besar maupun pasar export. Terkait domba dan kambing, memang sejumlah daerah lebih menyukai kambing seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sedangkan daerah lain lebih menyukai domba seperti Yogyakarta. Hal tersebut seharusnya juga menjadi perhatian terkait target pasarnya.

Export Domba dan Pellet Pakan Ternak ke Aljazair

  Aljazair mencanangkan import domba hingga 1 juta ekor untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha. Hal ini karena kebutuhan dalam negeri yang bes...